Lurah Bunulrejo Dra. Yuke Siswanti, M.Si Meresmikan Kampung Edukasi Herbal dan Zero Waste RW 19 Bunulrejo – Kampung KB Mbois

Bunulrejo, 5 September 2020

Potensi kelurahan Bunulrejo sangat besar, bila menarik dalam akar sejarah Bunulrejo yang dibuktikan dengan prasasti yang tertulis dalam patung ganesha bahwa terceritakan sejarah tanah perdikan pada tahun 935 Masehi. Sebuah sejarah yang mempunya nilai dapat dikembangkan, karena Bunulrejo mempunyai beberapa fase yaitu fase pertama tentu zaman kanuruhan pada 1085 tahun yang lalu, fase kedua adalah islam masuk ke Bunulrejo, fase ketiga adalah zaman kolonial dan fase keempat adalah zaman kemerdekaan.

Sehingga melihat dinamika yang menarik dari sejarah Bunulrejo tersebut generasi muda yang tergabung dalam Karang Taruna Setya Karya Bunulrejo tergerak mengejar dan mengisi potensi Bunulrejo dengan mengadakan acara seminar kajian potensi wisata tematik Bunulrejo dan revitalisasi pasar Bunulrejo menjadi pasar wisata, seminar kajian ini dilakukan pada tahun 2018 pada rangkaian HUT bunulrejo ke 1083 tahun.

Bola kreativitas membangun potensi sejarah Bunulrejo oleh pengurus Karang Taruna Setya Karya Bunulrejo periode 2018-2021 mencapai puncaknya pada tahun 2019 pada bulan september dan oktober dengan mengadakan acara Festival yaitu Flashmob Tari Bapang dan Batik Fashion Carnival. Festival yang dilaksanakan di halaman pasar Bunulrejo, yang menarik adalah semangat pengurus Karang Taruna menjadikan Festival tingkat kelurahan menjadi Festival Rasa Kota Malang dengan dana sangat terbatas. Makna dari kedua acara tersebut adalah bagaimana Bunulrejo membangun kembali akar budaya melalui refleksi tari bapang dan melalui Batik Fashion Carnival muncul Batik Tulis Khas Bunulrejo yang menjadi produk budaya Bunulrejo.

Sehingga muncul sebuah tagline Bunulrejo Mbois merupakan sebuah reflesi bahwa sejarah bunulrejo itu memang Mbois dengan kepanjangan Mbois adalah Mbonol Is Culture (aksen medok bahasa jawa malangan) yang memang menjadi keluhan Budaya atau arti lebih dalam adalah daerah dengan budaya masyarakat yang sangat kuat. Sehingga menyebut masyarakat Bunulrejo juga dengan tagline yang keren yaitu dengan nama Mbois People yang memaknai bahwa kelurahan Bunulrejo itu masyarakatnya Mbois dengan spirit untuk terus berkembang.

Melihat prespektif bahwa kreativitas Karang Taruna Setya Karya Bunulrejo yang membangun konsep Bunulrejo menuju wisata tematik Bunulrejo dengan keren dan Mbois, maka Kampung Keluarga Berencana (KB) Mbois Bunulrejo melanjutkan dengan hal yang konkrit dengan mendorong sebuah konsep Wisata Edukasi di setiap RW, sehingga program Kampung KB Mbois tidak saja mengejar kepersetaan apsektor KB, tetapi lebih luas membangun sebuah ekosistem kreatif di Kelurahan Bunulrejo.

Tagline Kampung Keluarga Berencana (KB) Mbois Bunulrejo adalah “Kampung KB Mbois Berbasis Potensi Wisata Tematik Sejarah Bunulrejo 1085 Tahun”, sehingga yang menjadi pembeda program Kampung KB diseluruh indonesia adalah basis dasar pengembangannya berdasarkan sejarah Bunulrejo, dan harapan dari membangun Kampung Keluarga Berencana (KB) Mbois Bunulrejo  ini adalah bagaimana ekosistem ekonomi kreatif Bunulrejo terus bergerak dan memberikan value ekonomi yang cukup tinggi bagi Mbois People Bunulrejo.

Salah satu semangat membanggakan adalah semangat warga RW 19 Bunulrejo untuk memajukan daerahnya dan Kampung KB Mbois Bunulrejo menangkap sebagai bentuk kolaborasi kreatif, dan kampung KB Mbois membangun ide kreatif yaitu menjadi Kampung Edukasi Herbal dan Zero Waste RW 19 Bunulrejo. RW 19 Bunulrejo adalah RW dalam lingkup perumahan, sehingga dengan lahan yang terbatas bisa memuncul sebuah ide kreatif akan menjadi hal yang menarik untuk dikunjungi.

Adalah Kampung Edukasi Herbal dengan semangat membangun Pertanian Perkotaan (Urban Farming) Bahan-Bahan Herbal yang ditanam oleh warga RW 19 Bunulrejo, dalam polibag bekas daur ulang, dan dari bahan herbal itu diproduksi produk herbal non kimia seperti sabun herbal, Sampo Herbal dan produk Herbal yang non kimia

Kampung Edukasi Zero Waste adalah bagaimana setiap warga memisahkan sampah bisa dipisahkan dan membuat semua yang dipakai dalam rumah tangga adalah bahan berwawasan lingkungan, Konsep Zero Waste ini dikembangkan dari pemilahan sampah organik dan anorganik kemudian diolah jadi pupuk kompos, dengan teknologi komposter

Konsep yang berbeda dan menarik, tidak sekedar mengembangkan pertanian perkotaan (Urban Farming), vertical garden, atau pun biopori, sumur resapan, tetapi kelebihan di Kampung Edukasi Herbal dan Zero Wates adalah bagaimana mengembangkan dari Pemilahan Sampah sampai Menanam urban Farming sampai menjadi produk Herbal yang bernilai ekonomi kreatif dan ada Pembelajaran atau Training Rutin dan Kreatif

Bila anda tertarik berkunjung ke RW 19 Bunulrejo akan berbeda, karena konsep Edukasi berbeda dan anda dapat menikmati proses dari hulu sampai konsep Herbal dan Zero Waste dan mendapatkan mengalaman yang Mbois. Jadi bagaimana produk herbal diproduksi dengan bahan-bahan yang sudah ditanam oleh warga RW 19 Bunulrejo, sehingga terjadi proses industri kreatif. Kemudian bagaiaman konsep zero waste dibangun dan terus dikembangkan, menarik kan Mbois People, akan ada cerita yang menarik di RW 19 Bunulrejo.

Program Pengembangan Kampung Edukasi di Wilayah Kelurahan Bunulrejo merupakan program Kampung KB Mbois Bunulrejo yang mengembangkan ekonomi kreatif Bunulrejo Berbasis Sejarah 935 Masehi Bunulrejo.

Dan pada pagi ini akan secara langsung akan diresmikan oleh Lurah Bunulrejo Dra. Yuke Siswanti. M.Si bertempat di balai RW 19 Bunulrejo

Menyambut HUT AREMA Ke-33 Tahun, Lurah Bunulrejo Melaunching Komunitas “Ongis Mbois” (Aremania Bunulrejo) dan Wedang Telang Minuman Kesehatan Khas Bunulrejo, wujud peran aktif Kampung KB Mbois Dalam Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Sinergi Melalui Wadah Elemen Suporter Bola Aremania

SIARAN PERS

11 Agustus 2020

UNTUK SEGERA DISEBARLUASKAN 

           

Kontak                        : Dra. Yuke Siswanti, M.Si, Kepala Kelurahan Bunulrejo

Alamat                        : Kantor Kelurahan Bunulrejo, Jl. Hamid Rusdi 91 Kota Malang

Website          : http://kelbunulrejo.malangkota.go.id  

 

Menyambut HUT AREMA Ke-33 Tahun, Lurah Bunulrejo Melaunching Komunitas “Ongis Mbois” (Aremania Bunulrejo) dan Wedang Telang Minuman Kesehatan Khas Bunulrejo, wujud peran aktif Kampung KB Mbois dalam sosialisasi program Keluarga Berencana (KB) sinergi melalui wadah elemen suporter bola Aremania.

  1. Launching Ongis Mbois dan maskot Ongis Mbois
  2. Launching Wedang Telang Minuman Khas RW 7 Bunulrejo, Minuman Kesehatan Khas Bunulrejo
  3. Poadcast Live Instagram bersama Bapak Abdul Muntholib (Penulis Buku “Arema Never Die” dan Redaktur Jawa Pos Radar Malang)

 

MALANG, – Aremania sebagai pendukung Arema FC yang selalu support dalam pertandingan di Liga 1 merupakan sebuah aset dan bila bicara tentang Arema tentu lebih dari sekedar bola. Gambaran potensi yang luar biasa ini terlihat dari Kapitalisasi potensi Aremania, bila mengaca data statistik, yaitu Arema FC Pegang Rekor Penonton Terbanyak Satu Dekade (2009-2019). Tercatat, angka total 512.876 orang atau rata-rata 30.169,17 orang setiap laganya yang menyaksikan 17 laga kandang selama ISL 2009-2010.

HUT Arema ke-33 tahun di Kelurahan Bunulrejo menjadi berbeda dan tercipta hal yang Mbois, tentu kami di Bunulrejo tidak ingin semarak HUT Arema hanya diisi dengan sekedar konvoi atau arak-arakan di jalan raya (yang memang pada masa pandemik covid19 tentu dilarang), tetapi dengan membangun sebuah konsep kreativitas yang keren melalui program Kampung KB Mbois.

 

Wujud Spirit kreativitas dari pengurus Kampung KB Mbois Kelurahan Bunulrejo adalah dengan membentuk komunitas Ongis Mbois (Aremania Bunulrejo), yang memiliki tujuan bahwa potensi dan peran serta warga yang menyalurkan kebanggaan dan jiwa kota Malang terpatri dalam Arema merupakan peran strategis dalam kolaborosi dalam mensosialisaikan hal-hal yang positif. Salah satu hal positif itu dilihat oleh Kampung KB Mbois Bunulrejo yang mempunyai ide kreatif dengan membentuk komunitas Aremania yang bernama Ongis Mbois Adalah sambil nonton bola ayo kita diskusi tentang Keluarga Berencana (KB). Ide yang kreatif saya kira membentuk sebuah konstruk berpikir dalam tindakan nilai positif dan semakin memberikan kemudahan terkait pemahaman pentingnya KB, lebih luas dalah saran dalam membangun kreativitas Aremania Bunulrejo dalam bingkai kreativitas sejarah Bunulrejo 1085 tahun.

Dalam momen kebanggan HUT Arema ke-33 ini selanjutnya yang kami Launching adalah Wedang Telang Minuman Khas Bunulrejo yang merupakan minuman yang berasal dari bunga telang yang tumbuh di wilayah Bunulrejo. Kreativitas menghasilkan minuman kesehatan Wedang Telang oleh warga RW 7 Kelurahan Bunulrejo ini merupakan sebuah ekspresi warga dalam menggali potensi sejarah Bunulrejo yang bersiah 1085 tahun, yang kita tahu bahwa Bunulrejo merupakan perdikan dalam masa kerjaan Kanuruhan yang mempunyai danau dengan taman bunga yang indah (bisa dilihat sejarah dalam berbagai artikel dan buku sejarah Bunulrejo). Potret dari kreativitas warga itu bisa dilihat bahwa potensi Bunulrejo sangat besar dengan potensi pusat Kuliner dan Gastronomi, sehingga mengapa kami melaunching pada momen membanggakan HUT Arema ke-33 adalah sebuh ekspresi warga yang ingin memunculkan potensi kreativitas, sehingga kami selaku Lurah Bunulrejo memberikan wadah agar ekosistem kreatif di Bunulrejo terus bergerak dan menghasilakan value ekonomi bagi masyarakat.

 

Sehingga saya Lurah Bunulrejo pada tanggal 11 Agustus 2020 dalam agenda Kampung KB Mbois me-launching 2 agenda yaitu :

  1. Launching Ongis Mbois dan maskot Ongis Mbois
  2. Launching Wedang Telang Minuman Khas RW 7 Bunulrejo, Minuman Kesehatan Khas Bunulrejo
  3. Poadcast Live Instagram bersama Bapak Abdul Muntholib (Penulis Buku “Arema Never Die” dan Redaktur Jawa Pos Radar Malang)

Kami Kelurahan Bunulrejo bangga menjadi bagian menyemarakkan HUT Arema ke-33 tahun dengan mendorong warga kelurahan Bunulrejo untuk dapat membangun nilai-nilai positif dan kreativitas warga Bunulrejo untuk memunculkan potensi ekonomi kreatif.

 

Semakin Sukses Untuk AREMA FC

Salam Satu Jiwa

AREMA

 

 

Spirit kami Bunulrejo Mbois :

Bunulrejo Mbois
Mbois = Mbonol Is Culture

 

 

Hormat kami,

Lurah Bunulrejo

 

 

 

Dra. YUKE SISWANTI, M.Si

Pembina

NIP. 19660612 199202 2 006

 

Lurah Bunulrejo Dra. Yuke Siswanti, M.Si Pimpin Agenda Gerakan Jatim Bermasker di Wilayah RW 7 Kelurahan Bunulrejo Kota Malang

#MboisPeople [Update Info Bunulrejo]
Latepost, 6 Agustus 2020
Gerakan Jatim Bermasker
—-


Semangat tak pernah kendur stakeholder Bunulrejo dalam bagaimana dampak pandemik covid19 cepat berlalu hilang di Bunulrejo tak pernah lelah dilakukan
.
Dibawah komando Bu Lurah Dra. Yuke Siswanti, M.Si bersama Babinkamtibmas bapak Aiptu Hari Sunaryo, Babinsa bapak Serda Supri Yono , Ketua Kelurahan tangguh (Keltang) bapak H. Sukandar, Ketua RW 7 Bunulrejo, Linmas RW 7 Bunulrejo yang dilakukan di spot keren RW 7 (Nah lain waktu kita cerita tentang spot keren RW 7 Bunulrejo ini ya)
.


Gerakan Jatim Bermasker ini merupakan gerak dalam membagi masker dan juga gerakan untuk membuat warga patuh dalam memakai masker
.
Kalau Mbois Poeple paham merekam berita terkait PSBL Bunulrejo sudah dua kali terlaksana, yang pertama tentu itu adalah inisiatif dari Bu Lurah dan hasil juga dari operasi pemakaian masker dijalan Binor, sehingga selain jumlah positif di RW 14 meningkat dan ternyata kepatuhan warga sangat minim dalam memakai masker pada waktu sebelum PSBL pertama, akhirnya ditetapkan PSLB pertama dengan ditutup nya jalan Binor
.
Nah Mbois People mengaca dari proses PSBL pertama di Bunulrejo bahwa penting memakai masker dan patuh protokol kesehatan dari pemerintah adalah salah satu kunci agar pandemik covid19 ini cepat berlalu ya


—-
Pewarta :
@kimmbois
www.kimmbois.com
KIM Mbois Bunulrejo
#terusberkreativitas

Bunulrejo Mbois
Mbois = Mbonol Is Culture

Dinas Kominfo bersama FKIM Kota Malang menyerahkan Buku Administrasi kepada KIM Mbois kelurahan Bunulrejo

FKIM KOTA MALANG NEWS
Penguatan Kelembagaan KIM Melalui Tata Kelola Administrasi

FKIM Kota Malang – Hari Kamis tgl. 6 Agustus 2020 Dinas Kominfo bersama FKIM Kota Malang menyerahkan Buku Administrasi kepada KIM Mbois kelurahan Bunulrejo, KIM Bois Ilakes kelurahan Blimbing, KIM Andong Merah kelurahan Pandanwangi dan KIM Cemara Hijau kelurahan Cemoro Kandang

KIM Mbois kelurahan Bunulrejo
Wakil dari Diskominfo Febrian Retnosari, S.Sos, M.Si menyerahkan buku administrasi kepada Ketua KIM Mbois kelurahan Bunulrejo Andri Wiwanto, ST, MM yang disaksikan oleh Lurah Bunulrejo Dra. Yuke Siswanti, M.Si dan Ketua FKIM Kota Malang Pantjawati Y, S.Sos, M.AB

 

KIM Andong Merah kelurahan Pandanwangi
Wakil dari Diskominfo Febrian Retnosari, S.Sos, M.Si menyerahkan buku administrasi kepada Ketua KIM Andong Merah Tommy Setyawan yang disaksikan oleh Seklur Kel. Pandawangi Meselan, SH.M.AP dan Ketua FKIM Kota Malang Pantjawati Y, S.Sos, M.AB

KIM Bois Ilakes kelurahan Blimbing
Wakil dari Diskominfo Febrian Retnosari, S.Sos, M.Si menyerahkan buku administrasi kepada Ketua KIM Bois Ilakes Didik yang disaksikan oleh Lurah Blimbing Rony Kuncoro S.STP dan Ketua FKIM Kota Malang Pantjawati Y, S.Sos, M.AB

KIM Cemara Hijau kelurahan cemoro kandang
Wakil dari Diskominfo Febrian Retnosari, S.Sos, M.Si menyerahkan buku administrasi kepada Ketua KIM Cemara Hijau Drs. Hariadi yang disaksikan oleh Seklur Cemorokandang dan Ketua FKIM Kota Malang Pantjawati Y, S.Sos, M.AB

Dengan adanya penyerahan Buku Administrasi untuk KIM semoga menjadikan semakin kuatnya organisasi KIM-KIM Kota Malang. ( FKIM Kota Malang )

Kita bersama untuk semua..

Pewarta : Meidi
Fotographer : Meidi
Editor foto : Fahmi

Pewarta :
@kimmbois
www.kimmbois.com
KIM Mbois Bunulrejo
#terusberkreativitas

Bunulrejo Mbois
Mbois = Mbonol Is Culture

Tahun Ini, Festival Menari Tari Bapang Kelurahan Bunulrejo Bakal Digelar Virtual – Kampung KB Mbois

Ribuan warga Kelurahan Bunulrejo saat turut serta meramaikan Festival Menari Tari Bapang tahun 2019 lalu. (Foto: Instagram @siswantiyuke).

Ribuan warga Kelurahan Bunulrejo saat turut serta meramaikan Festival Menari Tari Bapang tahun 2019 lalu. (Foto: Instagram @siswantiyuke).

MALANGTIMES – Tahun lalu festival menari Tari Bapang di Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, dilangsungkan dengan menghadirkan 1.000 warga yang ikut flashmob secara serentak. Namun kali ini, festival itu akan dilaksanakan berbeda, yakni secara virtual.

Agenda tersebut sebagai salah satu bentuk memeriahkan perayaan HUT Ke-75 RI  yang digelar di tengah pandemi covid-19.

Lurah Bunulrejo Yuke Siswanti menyampaikan, kegiatan Tari Bapang itu bagian dari kreativitas warganya. Karena mendulang kesuksesan tahun 2019 lalu, maka kali ini dengan semangat membangun nasionalisme, festival Tari Bapang digelar secara virtual.

“Sekaligus menbangun budaya dengan Tari Bapang. Semoga festival ini dapat bermanfaat dan dapat diikuti oleh semua warga Kota Malang,” ujarnya.

Tak hanya itu. Per hari ini (Kamis, 6/8/2020) Kelurahan Bunulrejo mencanangian dua kampung edukasi. Yaitu kampung edukasi seni dan tari serta kampung edukasi buah-buahan dan rempah.

Kampung edukasi seni dan tari itu terbagi di beberapa RW, yakni RW 3, 4, 5 dan 6. Warga di wilayah tersebut memang banyak berprofesi pelaku seni yang mumpuni dan layak untuk dikembangkan.

“Di sini juga memiliki beberapa lokasi yang dapat menampilkan geliat seni warga sehingga saya mencanangkan menjadi kampung edukasi seni dan tari. Contoh semangat warga dalam mengikuti flashmob Tari Bapang. Cukup aktif dan antusias, sehingga potensi kampung edukasi ini akan menjadi spot wisata menarik bagi Kota Malang,” imbuhnya.

Sedangkan kampung edukasi buah-buahan dan rempah terdapat di wilayah RR R RW 19 Kelurahan Bunulrejo. Yuke menilai, pengembangan potemsi di Perumahan Bunulasri yang menjadi dorongan untuk pencanangan pusat edukasi buah dan rempah.

“Ini juga bagian dari cerita membangun sejarah 1.085 tahun Bunulrejo yang merupakan taman yang indah. Begitu cerdasnya ide ini dibangun dalam membuat kampung edukasi. Salut untuk
warga RT 4 RW 19 Bunulrejo,” tambahnya.

Dengan terealisasinya ide-ide kreatif dan penguatan budaya di lingkungan masyarakat itu, Kelurahan Bunulrejo mendorong semua kelembagaan, baik di tingkat RT dan RW, untuk dapat mengembangkan potensi lain di wilayahnya.

“Seperti halnya pengurus Kampung KB Mbois Bunulrejo telah bergerak untuk kemajuan wilayah Kelurahan Bunulrejo sehingga akan dapat membangun sebuah ekosistem ekonomi kreatif dan semua itu untuk manfaat bagi warga sendiri,” tandas Yuke.

Sumber : https://www.malangtimes.com/baca/55982/20200806/180700/tahun-ini-festival-menari-tari-bapang-kelurahan-bunulrejo-bakal-digelar-virtual?fbclid=IwAR1IyhQfaMd-9eFB4a6Tf8tbO2Z9qM8luPeDtOdXplEh3ZI5XheWSpkfFek

Bergerak Membentuk Kampung Edukasi Buah-buahan dan Rempah RT 4 RW 19 Bunulrejo – Kampung Keluarga Berencana (KB) Mbois Kota Malang

#MboisPeople [Update Info Kampung KB Mbois Bunulrejo]
www.kampungkbmbois.com
—-


Ayo Mbois People, apa terpikirkan oleh anda, sebuah lapangan, disebuah RT, apakah cuma hanya dilakukan pemberian cat di lokasi, urban farming, sumur resapan, bisa jadi iya.. tetapi bila bicara Bunulrejo pesan tersirat nantinya lebih dari itu
.
Mau dijadikan apa ya…heeee
.
Bagaimana Mbois People kalau Bunulrejo semakin Mbois
—-
“Kampung KB Mbois Berbasis Potensi Wisata Tematik Sejarah Bunulrejo 1085 tahun”
.
@kampungkbmbois
.
www.kampungkbmbois.com
—-
Bunulrejo Mbois
Mbois = Mbonol Is Culture

Karang Taruna Setya Karya Kelurahan Bunulrejo Bersemangat Kreativitas Mengadakan Program Bagi Takjil dan Masker

Bunulrejo, Kamis 14 Mei 2020

 

Hallo Mbois People sudah lama ini kami Karang Taruna Setya Karya Kelurahan Bunulrejo tidak bikin event Mbois ya, terakhir menyambut event HUT Kota Malang pada tanggal 1 april 2020 dengan tema Festival Ngopi Mbois, tetapi agenda ini dibatalkan karena dampak pandemi covid-19 yang membatasi massa yang berkumpul. Meskipun begitu anggota Karang Taruna Setya Karya Kelurahan Bunulrejo aktif dalam kondisi dapak Covid-19 ini terus bergerak dalam untuk mendukung kondisi lingkungan di RW masing-masing.

Nah Mbois People manyambut momen Puasa di Bulan Ramadan yang berbalut dengan suasana pandemi covid-19 ini kami Karang Taruna Setya Karya Kelurahan Bunulrejo tetap bersemangat kreativitas mengadakan program bagi takjil dan masker gratis.

Jangan Lewat kan ya Mbois People

Hari Sabtu, 16 Mei 2020, mulai kumpul-kumpul jam 13.00 wib, di kantor Kelurahan Bunulrejo

Tentu dengan keterbatan budget kami, Kami masih membutuhkan dukungan donasi dari semua Mbois People,

Nah bila Mbois People ingin memberikan Donasi, baik Uang Tunai, Masker atau Makanan Takjil, bisa hubungi 0857-2101-9514 (Rio)

Semoga agenda kecil ini bermanfaat dan berkah.. Amiinn YRA

 

Pewarta :
@kimmbois
www.kimmbois.com
KIM Mbois Bunulrejo
#terusberkreativitas

Bunulrejo Mbois
Mbois = Mbonol Is Culture

Bunulrejo Mbois, Mbonol Is Culture | Arti Logo Branding Bunulrejo | KIM Mbois – Kanal Media & Jurnalisme Warga Online

Bunulrejo

Arti Logo Branding Bunulrejo :

“Berwarna warni dalam sebuah sejarah taman bunga, dengan bergandengan tangan membangun lingkungan sosial Kelurahan Bunulrejo”

#Bunulrejo #Mbois #MbonolIsCulture

Sejarah asal usul desa pada umumnya dapat digali melalui tinggalan arkeologis dan folklor (cerita rakyat). Berdasarkan “prasasti kanuruhan”, ditulis di belakang sandaran arca “Ganesha” (Dewa berkepala gajah dari pemeluk agama Hindu ) yang putus bagian kepala hingga bahu, yang dahulu berada di halaman rumah Bapak Dasir di Beji Gang Buntu (RT 01 RW XII) Kelurahan Bunulrejo.

Sepanjang yang dapat dibaca pada prasasti ”Kanuruhan” yang berbahasa Jawa kuno dan berhuruf Jawa Kuno tersebut bahwa pada tahun 856 saka bulan Posya Wuku Wukir, Rakryan Kanuruhan Dyah Mungpang memberikan hadiah sebagian tanah di desa yang masuk wilayah kanuruhan kepada penduduk desa yang bernama “BULUL” atas jasa-jasanya terhadap desanya. Nama “BULUL” ini kelak kemudian hari berubah menjadi “BUNUL” dari hasil perubahan bunyi dari konsonan ”l” menjadi “n”, seperti kata : Melur menjadi Menur, Panawijen menjadi Palawijen.

Kelurahan Bunulrejo secara administrative terbentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 15 tahun 1987. Adapun nama bunulrejo sendiri baru ditetapkan pada tahun 1981 oleh Perda Kotamadya Malang. Sebelum itu nama yang dikenal adalah “Bunul “ Menurut Perda Kotamadya Malang No. 4 tahun 1967, desa Bunul masuk dalam Lingkungan VI Kecamatan Blimbing. Lingkungan yang dimaksud merupakan kesatuan desa yang secara administrative membawahi sebuah wilayah sejajar dengan desa-desa tersebut (wilayah desa di dalam kota) jadi dalam hal ini tidak ada kepala desa yang ada hanya “Kepala Lingkungan” Dengan demikian kepala lingkungan statusnya sejajar dengan Kepala Desa.

Demikianlah sejarah singkat terbentuknya kelurahan Bunulrejo yang sekarang ini, secara administratif sejak tahun 1987 Desa Bunul ditetapkan dan berdiri sendiri sebagai Kelurahan Bunulrejo, yang terdiri dari 21 (dua puluh satu) Rukun Warga (RW) dan 146 (seratus empat puluh enam) Rukun Tetangga (RT).

 

created by :

Karang Taruna Setya Karya Kelurahan Bunulrejo

Sejarah Desa Bunulrejo Kota Malang Berdasarkan Tinjauan Prasasti Kanuruhan | KIM Mbois – Kanal Media & Jurnalisme Warga Online

Bunul-03Prasasti Kanuruhan di balik arca Ganesya dari Bunulrejo (Foto-foto: Dok. Pribadi)


Abstrak

Kelurahan Bunulrejo adalah salah satu wilayah kelurahan di Kecamatan Blimbing Kota Malang. Terbentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah no.15 tahun 1987. Sebelum itu nama yang dikenal adalah ‘Bunul’. Menurut Perda Kotamadya Malang no.4 tahun 1967, Desa Bunul masuk dalam Lingkungan VI Kecamatan Blimbing. Pada zaman Belanda, Desa Bunul menjadi wilayah Asisten Wedana Blimbing menurut ketetapan Gemeenteblad no.108 tahun 1937. Sejarah desa Bunul dapat diketahui berdasarkan data-data sejarah dan arkeologis yang ada di dalamnya.

Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan sejarah (historical approach), yaitu untuk  mengetahui sejarah desa Bunulrejo di masa lampau. Dari hasil analisa diketahui bahwa Bulul berasal dari nama seorang pemuda Jawa Kuna yang hidup pada kurun abad X M dan bertempat tinggal di desa tersebut. Desa tersebut oleh raja dianugerahkan kepada Bulul, ditandai peresmian pada prasasti batu yang berbentuk arca Ganesya. Peresmian dilakukan hari Minggu, 4 Januari 935 M pukul 12.00. yang secara formal sejak tanggal itu, Bulul berhak atas desa tersebut.

Kata kunci: Sejarah, Desa Bunulrejo, Prasasti Kanuruhan.


Abstract

Bunulrejo is one of the urban villages in Blimbing district, Malang City. Based on government regulation number 15 of 1987, this village was formerly known as “Bunul”. According to the municipal regulation number 4 of 1967, Bunul village is listed as the environmental area VI of Blimbing district. Furthermore, Gementeblad regulation number 108 of 1937 stipulated that Bunul is the area of Assistant Wedana Blimbing during the Dutch era. Therefore, the history of Bunul village can be known from the historical and archaeological data in it.

The approach used in this research is historical approach in order to figure out the history of Bunulrejo village in the past. From the analysis it is known that the world “Bulul” is taken from the name of ancient Javanese young man who lived in that particular area in the tenth century AD. The area is than conferred by the king to Bulul which is marked on the Ganesya stone inscription. The inauguration was held on Sunday, 4th of January 935 AD at 12.00 which officially from that date Bulul entitled to the village.

Keywords: History, Bunulrejo village, Kanuruhan inscription,


PENDAHULUAN

Desa Bunul atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Kelurahan Bunulrejo Kecamatan Blimbing Kota Malang, secara administratif terbentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah no.15 tahun 1987. Adapun nama Bunulrejo sendiri baru ditetapkan pada tahun 1981 berdasarkan Perda Kotamadya Malang. Sebelum itu nama yang dikenal adalah ‘Bunul’. Menurut Perda Kotamadya Malang no.4 tahun 1967, Desa Bunul masuk dalam Lingkungan VI kecamatan Blimbing (Suwardono dan Rusmiayah, 1996). Yang dimaksud dengan lingkungan adalah kesatuan wilayah setingkat dengan desa besar yang secara administratif membawahi desa-desa kecil. Lingkungan dikepalai oleh ‘kepala lingkungan’ yang sejajar dengan kepala desa. Untuk Lingkungan VI Kecamatan Blimbing, membawahi desa Lowokwaru, Purwantoro, dan Bunulrejo (Suwardono dan Rusmiayah, 1996).

Sebelum itu, Desa Bunul menjadi wilayah Asisten Wedana (kecamatan) Blimbing menurut ketetapan Gemeenteblad no.108 tahun 1937, dan kondisi demikian diteruskan sampai adanya perombakan nama-nama desa yang diatur dalam Perda Kotamadya Malang tahun 1981, dilanjutkan adanya perubahan wilayah dalam PP no.15 tahun 1987 seperti yang tersebut di atas hingga sekarang. Pada zaman kolonial Belanda, nama-nama dukuh (kampung kecil) yang terdapat di Desa Bunul menurut peta Gemeente Malang tahun 1923 adalah: Rampal, Bunul lor, Bunul kulon, Ngujil, Ngujil wetan, Bunul, dan Bunul wetan.

Bunul-01

Peta Kelurahan Bunulrejo dan Asal Arca Ganesya 

Demikianlah secara singkat terbentuknya Kelurahan Bunulrejo yang sekarang ini, yang secara administratif dapat dikatakan bahwa pemerintahan desa dapat dilacak/dimulai pada masa pemerintahan Hindia Belanda (kolonial). Yang menarik perhatian dari desa Bunul tersebut adalah ‘nama’ desa itu sendiri, yaitu Bunul. Akan sia-sia apabila mensejajarkan nama ini dengan nama-nama tempat yang ada di daerah Malang yang kebanyakan berasal dari nama pohon (seperti Celaket, Rampal, Lowokwaru, Jatimulyo, Kasin, Bareng, Gading Kasri, dan sebagainya) atau kondisi alam setempat (seperti Kauman, Talun, Mergan, Merjosari, Dinoyo, Jenggrik, Bioro, Guyangan, Tlogomas, Tulusrejo, Bantaran, dan sebagainya). Sementara nama Bunul tidak termasuk dalam dua kategori nama tersebut di atas.

Dengan demikian tentunya ada sesuatu peristiwa yang menempatkan daerah ini bernama ‘Bunul’. Bagaimanakah dapat diketahui tentang masa lampau dari Desa Bunulrejo ini, kemungkinan dapat dilacak berdasarkan data-data yang ada di dalamnya. Karena sejarah asal usul desa pada umumnya dapat digali melalui  tinggalan arkeologis dan  folklor atau cerita rakyat. Beruntung di daerah Bunulrejo masih dapat ditelusuri adanya peninggalan-peninggalan pada masa lampau sejak zaman Hindu Budha dan Islam (Mataram Islam). Untuk mencari asal-usul desa, pada umumnya dicari pendekatan dengan cerita dari mulut ke mulut tentang tokoh ‘bedah krawang’ atau yang membuka perkampungan pertama kali (Soedjono, 1981).

Sumber data yang digunakan dalam penulisan ini adalah:

Data di lapangan berupa artefak arca Ganesya yang di belakang sandarannya terdapat prasasti, serta indikasi Situs Telaga. Sumber informasi di lapangan (keterangan penduduk setempat berupa kesaksian adanya situs dan cerita rakyat), serta referensi yang mendukung.


METODE

Mengingat obyek kajian berhubungan dengan kontinuitas historis, maka digunakan pendekatan sejarah (historical approach), yaitu untuk  mengetahui sejarah desa Bunulrejo di masa lampau. Adapun langkah-langkah dari metode penelitian sejarah sendiri bertumpu kepada empat kegiatan pokok, yaitu: 1) Heuristik; pengumpulan objek yang berasal dari zaman yang bersangkutan dan pengumpulan bahan-bahan tercetak, tertulis dan lisan yang boleh jadi relevan untuk disusun dalam bentuk sejarah sebagai kisah, 2) Kritik; menyingkirkan bahan-bahan (atau bagian-bagian dari padanya) yang tidak otentik.

Kegiatan ini meneliti apakah sumber-sumber itu asli baik bentuk maupun isinya. Dengan membagi menjadi kritik intern dan ekstern dalam melakukan pemilihan dan penentuan terhadap sumber sejarah yang diperlukan, 3) Interpretasi; menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan-bahan yang otentik. Di sini kegiatan menetapkan makna yang saling berhubungan dari fakta-fakta yang diperoleh, setelah fakta-fakta itu dibuktikan kebenarannya, 4) Historiografi; penyampaian sintesa yang diperoleh dalam bentuk suatu kisah sejarah yang berarti (Notosusanto, 1976:35-43; 1986:18).


PAPARAN DATA

a. Situs Bekas Telaga

Di  Kelurahan Bunulrejo terdapat sebuah kampung kecil bernama ‘Beji’. Letaknya berada di sebelah timur kantor Kelurahan Bunulrejo. Kampung tersebut hanya dihuni sekitar 6 rumah, yang salah satunya adalah berupa ‘Gereja Kristen Advent’. Karena kampung tersebut berpenghuni sedikit dan tidak terdapat akses jalan tembus, maka dinamakan kampung ‘Beji Gang Buntu’. Dalam bahasa Jawa, kata ‘Beji’ berarti telaga (Poerwadarminta, tanpa tahun; Mardiwarsito, 1986; Zoetmulder, 2004).

Di bawah bangunan gereja tersebut, menurut keterangan penduduk setempat bahwa di bawahnya terdapat bekas telaga berukuran 12 m² yang sisi-sisinya dibatasi dengan dinding bata merah tebal, dengan pancuran-pancuran (dwarajala) di sekelilingnya guna mengalirkan airnya yang didapat dari sumber bawah tanah (artesis). Penduduk setempat menamakannya ‘sumur gumuling’. Ditimbunnya lahan situs telaga tersebut karena pertimbangan kepentingan tempat tinggal, apalagi pada waktu itu perhatian pihak pemerintah daerah terhadap bangunan-bangunan purbakala belum serius penangannya. Informasi yang diperoleh dari pemilik tanah bahwa sekitar tahun 1960-an, lahan situs telaga tersebut diurug dengan tanah urug bermeter-meter kubik oleh pemilik tanah,  sehingga rata dengan lingkungan kanan kirinya.

b. Arca Ganesya

Di sisi telaga, dahulu terdapat sebuah arca dewa Hindu yang berkepala gajah,
yaitu Ganesya. Ukuran arca Ganesya tersebut P: 101.5, L: 74, dan Tg: 109.5. duduk di atas bantalan motif bunga teratai ganda. Setengah bagian dada ke atas hilang. Tangan empat (caturbhuja). Tangan kanan belakang patah. Tiga tangan lainnya bagian tekapak tangan hilang, sehingga tidak diketahui laksana apa yang dibawa. Arca ini ketika didapati pertama kali pada zaman Belanda memang sudah rusak. Kerusakan antara lain pada bagian atas, yaitu bahu hingga kepala hilang. Potongan kepala arca tersebut hingga kini belum ditemukan. Diduga potongan tersebut memang sengaja dihancurkan berkeping-keping dan kemudian dimasukkan ke dalam telaga. Menurut keterangan Bapak Dasir sebagai pemilik tanah, dari cerita leluhurnya sejak arca tersebut ditemukan kondisinya sudah tanpa kepala.

Pada tahun 1978 oleh Bapak Djoko Rihadi selaku Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Malang waktu itu, arca Ganesya tersebut diangkat untuk dipindahkan ke kantor DPU Kotamadya Malang di Jl. Halmahera. Tahun 1991 arca Ganesya beserta dengan arca yang lain dipindah lagi ke Taman Senaputra Malang. Baru tahun 2003 ditempatkan di Balai Penyelamatan Benda Cagar Budaya ‘Pu Purwa’ Kota Malang hingga sekarang.

Bunul-02Arca Ganesya dari Bunulrejo

c. Prasasti

Di balik sandaran arca Ganesya terdapat beberapa baris inskripsi yang merupakan sebuah prasasti berkenaan dengan daerah tempat arca Ganesya semula berada, yaitu kawasan ‘Beji’ Bunulrejo. Prasasti Kanuruhan pernah dibaca oleh Boechori dan tercantum dalam disertasi Edi Sedyawati (Sedyawati, 1994). Sepanjang yang dapat dibaca pada prasasti ‘Kanuruhan’ yang berbahasa Jawa Kuna dan berhuruf Jawa Kuna tersebut bahwa pada tahun 856 saka bulan Posya wuku Wukir (bulan ‘posya’ tersebut menurut pembacaan Damais tahun 1950an, tetapi sewaktu Boechari membaca di tahun 1970an, huruf ‘pa’ untuk kata ‘Posya’ sudah hilang, hingga sekarang yang terbaca hanya angka tahunnya saja, (sementara penanggalan hari pasarannya hilang karena batunya pecah). Rakryan Kanuruhan Dyah Mungpang memberikan hadiah sebagian tanah di wanua/desa……. (nama desa tidak terbaca, hanya kata akhir yang tersisa, yaitu: ‘tan’) yang masuk wilayah Kanuruhan, kepada penduduk desa (anak wanua) bernama ‘Bulul’ atas jasa-jasanya terhadap desanya.

Jasa Bulul tersebut diduga berhubungan dengan keamanan wilayah desa, serta perhatian dan kecintaannya terhadap alam lingkungan, serta patriotisme yang tinggi. Dalam merealisasikan kecintaan dan kepedulian terhadap alam lingkungan, Bulul membuat sebuah telaga yang indah yang lengkap dengan taman bunganya. Atas perhatian dan kepedulian Bulul terhadap lingkungan tersebut, akhirnya penguasa/raja wilayah daerah Kanuruhan, memberikan hadiah tanah perdikan sebagai anugerah atas jasa-jasa Bulul (Sumadio. Ed, 2008) :

Bunul-04

Salinan prasasti Kanuruhan 

Transkrip Prasasti Kanuruhan (menurut bacaan penulis yang sudah dikonfirmasi dengan bacaan Boechari), adalah seperti berikut:

  1. lup ma ………………………………………………………………………………………………………….
  2. 1 ma 4 kinabehanira mańkana krama ni ……………………………………………………………
  3. l (konsonan: la mati) . kunaŋ asiŋ sumbikāra ikanaŋ lmah pańadganikaŋ ya sa guni (weh) ………..
  4. muaŋ pañcamahāpātaka tmunya //0// swasti śaka warşatita 856 …………………………..
  5. ra wukir irikā diwaśa rakryan kanuruhan arthahetoh dyah muńpaŋ umanugraha ………………….
  6. tan watak kanuruhan paknanya de saŋ bulul tanammana puspa dala mula kambaŋ. rowańa nikanaŋ ya śa pa….
  7. na ista prayojana saŋ bulul irikaŋ lmah yatika sinanma ta de rakryan kanuruhan inimbuh ri ha …..
  8. akan mas su 1 ma 8 wdihan yu 1 i rakryan. juru i kanuruhan irikaŋ kala juru kanayakan kalih saŋ hadyan rawaŋ saŋ ha
  9. dyan panbasan parujar saŋ hadyan wuńkal kiluŋ tuhā ni wadwa rare kalih dyah gayana saŋ ganam tuhā niŋ kalula saŋ hijo. Tuhā niŋ ma
  1. ndakat dyah slur amasańnakan dyah awik sukreta momahumah saŋ kawańyan pārtha winaih mas su 1 ma 4 kinabehanira (pa)
  2. tih rikaŋ kāla patih pamgat saŋ hiranya maŋhambin saŋ prakasita. patih kawańyan saŋ prathama juru banua kālih saŋ jańgala saŋ (pra)
  3. gaŋ pańuraŋ saŋ cinta wrenaŋ saŋ bāta gusti saŋ bohuńtas maniga bapa ni brati panulisan saŋ keśawa pańaruan si
  4. basura apkan saŋ wulakan juru bwatoh si milaŋ. wahuta wuńkal raya bapa ri buluńuh pakambańan buluńuh pa
  5. tih panbahan si pandul parujar i pakaraņān si waluyan wayuh i kawańyan si gumul wineh mas su 1 ma 8 ki
  6. nabehannira maka dalā pagêhan ikanaŋ lmah anugraha rakryan kanuruhan i saŋ bulul tkā i dlāha niŋ dlāha  kunaŋ asiŋ umulahu
  7. lah ikanaŋ lmah anugraha rakryan kanuruhan i saŋ bulul salwirniŋ mahāpātaka pańguhannya sapasuk wanwa
  8. labuh juru kalula saŋ padma //0//

Terjemahan (menurut penulis):

  1. ………
  2. 1 suwarna 4 masa masing-masing. seperti itulah peraturan dari…
  3. selanjutnya barang siapa berusaha mengubah ketetapan sebidang tanah yang telah dikukuhkan kepada siapapun lebih-lebih…..
  4. dan mendapati lima macam dosa besar*//0// Selamat tahun saka telah berjalan 856 ….
  5. ra wukir, pada waktu itulah rakryan kanuruhan bernama* dyah mungpang memberi anugerah…..
  6. tan wilayah kanuruhan diperuntukkan bagi sang bulul guna menanam bunga-bunga sebagai taman bunga, diiring oleh siapapun…..
  7. (sebab) maksud dari tujuan sang Bulul terhadap sebidang tanah itulah yang membuat rakryan kanuruhan menambahinya…..
  8. (diberikan) mas 1 suwarna 8 masa dan wdihan 1 yugala kepada rakryan. juru di kanuruhan pada waktu itu juru kanayakan dua (orang) sang hadyan rawang sang ha
  9. dyan panbasan. juru bicara sang hadyan wungkal kilung, pemimpin prajurit dua (orang yaitu) dyah gayana dan sang ganam. pemimpin para abdi istana sang hijo. pemimpin
  10. penari topeng dyah slur. pejabat protokol dyah awik sukreta. momahumah sang kawangyan (bernama) partha diberi mas 1 suwarna 4 masa masing-masing
  11. patih pada waktu itu patih pamgat (bernama) sang hiranya. pengurus pakaian istana sang prakasita. patih kawangyan sang prathama. pejabat pengurus desa dua (orang yaitu) sang janggala dan sang pra
  12. gang. petugas pemungut pajak sang cinta. wrenang sang bata. gusti sang bohungtas, maniga ayahnya brati, juru tulis sang kesawa, pangaruhan si
  13. basura, petugas pasar sang wulakan, juru bwatoh si milang, wahuta wungkal raya bapak dari bulunguh taman bunga bulunguh
  14. patih panbahan si pandul, juru bicara di tempat si waluyan, wayuh (dari) kawangyan si gumul diberi mas 1 suwarna 8 masa
  15. masing-masing, demikian itulah ketetapan sebidang tanah yang dianugerahkan dari rakryan kanuruhan kepada sang bulul sampai akhir zaman, adapun barang siapa melanggar
  16. ketetapan tanah anugerah rakryan kanuruhan kepada sang bulul ini, akan mendapati segala macam dosa besar di dalam wilayah desa.
  17. yang mengakhiri, pemimpin para abdi istana (bernama) sang padma//0// .


Catatan:

*    Pancamahapataka: melakukan 5 macam dosa besar, yaitu:

  1. membunuh seorang brahmana
  2. melakukan lamwukanya
  3. durhaka kepada guru
  4. membunuh janin
  5. berteman dengan ke 4 pelaku di atas (Stutteirheim, 1927; Nastiti dkk, 1982).
  • Lamwukanya arti harfiahnya adalah ‘lembu perawan‘. Diduga adalah sebutan untuk ‘lembu perempuan yang masih muda, yang belum dikawin oleh lembu jantan‘. Argumentasinya bahwa hewan lembu dalam upacara penetapan sima disebut-sebut dalam prasasti seperti prasasti Gulung-gulung dan prasasti Jeru-jeru sebagai sosok yang diagungkan, dalam upacara penetapan sima disebut sebagai ‘sang hyang Lambu/Lamwu‘. Penyebutannya setelah ‘sang hyang Brahma‘, baru setelah itu ‘sang hyang Susuk‘, sehingga kedudukan lembu di sini sangat istimewa. Mungkin yang dimaksud ‘melakukan lamwukanya‘ adalah melakukan pembunuhan atau mempekerjakan lembu perempuan yang masih muda, yang memang disakralkan masyarakat Jawa Kuna waktu itu.

*    Terjemahan ‘arthahetoh=bernama’ mengikuti Titi Surti Nastiti dalam prasasti Sobhamerta 939 M (Puslitbang arkenas, 2007). Boechari dalam pembacaan prasasti Wurudu kidul I dan II 922 M (Boechori dan Wibowo, 1985/1986), prasasti Hering 934M (Brandes, 1913), dan prasasti Hara-hara 966 M (Brandes, 1913 ; Soemadio, 1984).

Ukuran mas:

  • 1 suwarna emas = 0,038601 kg
  • 1 masa emas = 0,002412 kg (Stutteirheim, 1940).

Ukuran dan satuan kain:

Dalam beberapa prasasti diasanya dibedakan antara ‘wdihan’ untuk laki-laki dan ‘ken’ untuk perempuan. Satuan yang dipakai untuk wdihan adalah ‘yugala’ disingkat ‘yu’ yang berarti satu stel atau sepasang, namun tidak selalu sepasang, kadang-kadang diberikan hanya sehelai. Sedangkan untuk kain dipakai satuan ‘wlah’ atau ‘hlai’ yang berarti helai (Nastiti dkk, 1982).

d. Cerita Rakyat

Cerita rakyat yang didapat dari penduduk setempat sekitar situs telaga, terutama keluarga pemilik tanah, berkenaan dengan sosok arca Ganesya, yang oleh mereka disebut sebagai penjelmaan ‘maling aguno’ yang dikutuk oleh seorang ‘wali’ menjadi arca batu. Cerita secara turun temurun mengatakan bahwa di Bunulrejo tersebut dahulunya bukanlah suatu tempat yang aman. Ketidak tenteraman wilayah Bunul disebabkan adanya sosok ‘maling aguno’, yaitu seorang pencuri yang sangat sakti, sehingga membuat penduduk Bunulrejo selalu ketakutan, apalagi ketika melewati jalan di tepi desa pada siang hari. Pada malam hari ketakutan penduduk semakin mencekam.

Pada suatu ketika datanglah di tempat tersebut seorang wali, dan pada akhirnya dapat menundukkan kesaktian ‘maling aguno’, yang ternyata tidak hanya seorang, tetapi dua orang bersaudara, yaitu laki-laki dan perempuan. Dalam suatu perkelahian adu kesaktian ternyata ‘maling aguno’ kalah. Kalahnya ‘maling aguno’ karena dipanah oleh sang wali. Dipanah satu anak panah dan mengenai keduanya. ‘Maling aguno’ tersebut akhirnya tewas berhimpitan, dan seketika itu menjadi batu.


PEMBAHASAN

a. Tinjauan Sejarah Desa Bunul

Awal terbentuknya nama desa Bunul dapat ditarik ke suatu masa lampau sekitar abad X M. Dasar penetapan secara otentik adalah bunyi prasasti Kanuruhan yang berangka tahun 856 saka. Pada masa itu penguasa kerajaan di Jawa adalah raja Sindok dari Kerajaan Medang yang sudah berpindah ke Jawa Timur. Namun demikian di Jawa Timur banyak penguasa-penguasa lokal dalam bentuk ‘watak’ yang setara dengan ‘adipati’ zaman kerajaan Mataram Islam. Salah satu penguasa lokal di Malang waktu itu adalah Rakryan Kanuruhan (penguasa daerah Kanuruhan).

Pada saat itu di sebuah wanua/desa yang bernama wanua (…. tan), nama wanua/desa ini tidak terbaca karena batu bagian kanan putus. Pada sisi kiri pada awal baris kalimat terbaca ‘tan watak kanuruhan’, yang secara lengkap tentunya berbunyi ‘wanua … tan watak kanuruhan’ yang artinya desa …tan wilayah Kanuruhan. Di dalam prasasti Sangguran (928M), terdapat sebuah wanua/desa tepi siring (desa di sekitar/desa tetangga) yang ikut menjadi saksi pada waktu prasasti Sangguran diresmikan. Wanua/desa tersebut bernama ‘Kajatan’ (Brandes, 1913). Karena wanua Sangguran watak Waharu lokasinya dekat dengan  wilayah Kanuruhan. Wanua Kajatan watak Kanuruhan ini ikut menjadi saksi, termasuk orang Tugaran, Tampuran yang berada di luar watak Waharu pun ikut menjadi saksi. Dengan demikian kemungkinan dapat diduga bahwa ‘wanua …tan watak kanuruhan’ yang tertulis di dalam prasasti Kanuruhan itu sama dengan ‘wanua kajatan’ yang tercantum di dalam prasasti Sangguran.

Disebutkan bahwa ada seorang yang bernama ‘Bulul’, yang memiliki kelebihan dibanding dengan pemuda desa lainnya. Pada suatu ketika desa ‘Kajatan’ dilanda kerusuhan (rupa-rupanya kondisi ini secara turun temurun tetap diingat oleh penduduk Bunul, terbukti muncul tradisi lisan tentang sosok ‘maling aguno’). Zaman Jawa kuna dahulu yang namanya pencurian, perampokan, sampai pembunuhan sudah umum dan merajalela. Tentunya kita ingat terhadap prasasti Balingawan tahun 891 M, yang menyebutkan bahwa diterbitkannya prasasti Balingawan disebabkan karena di daerah Balingawan banyak terjadi pembunuhan gelap (Brandes, 1913; Museum Nasional Indonesia, 2016). Secara geografis desa Balingawan (Mangliawan sekarang) dengan desa Bunulrejo hanya merupakan desa tetangga yang tidak begitu jauh. Oleh karena itu penguasa kerajaan selalu tanggap dengan dibuatnya undang-undang pencegahannya berupa hukuman atau denda. Namun yang agak menyusahkan penduduk adalah hukuman kepada penduduk desa yang pekarangannya kedapatan sosok mayat akibat pembunuhan dan perampokan, seperti yang tersebut di dalam prasasti Balingawan. Justru yang kena denda adalah pemilik pekarangan di mana mayat itu ditemukan.

Diduga nazar yang dilakukan oleh pemuda Bulul berkenaan dengan situasi dan kondisi daerahnya waktu itu, dan apabila lingkungan desanya itu menjadi aman, maka ia hendak membangun sebuah taman telaga yang di sekitarnya dihias dengan taman bunga-bungaan, sehingga tampak asri. Dalam usaha ikut serta mengamankan desanya ternyata berhasil. Dari sebab itulah Bulul melaksanakan nazar yang pernah diniatkan itu.

Harapan dan keinginan Bulul rupanya terdengar pula sampai ke Kerajaan Kanuruhan, bahkan kerajaan Medang. Sri Maharaja Pu Sindok demi mendengar usaha yang dilakukan oleh Bulul, segera memerintahkan kepada raja di Kanuruhan yang menjadi penguasanya, yaitu Rakryan Kanuruhan Dyah Mungpang, untuk segera menindaklanjuti karya Bulul tersebut. Demikianlah atas nama raja kerajaan Medang, Rakryan Kanuruhan Dyah Mungpang memanggil Bulul untuk mendapat penghormatan dan imbalan atas usahanya, bahkan dalam pelaksanaan pemberian hadiah, Rakryan Kanuruhan menambahi anugerah dengan ditetapkannya desa Kajatan menjadi kekuasaan Bulul hingga akhir zaman.

Peresmian taman telaga beserta taman bunganya itu ditetapkan pada tahun 856 saka minggu Wukir bulan Po.. (sayang unsur penanggalannya tidak diketahui karena hilang terpotong). Pembacaan ini atas dasar pembacaan Damais (Damais, 1955). Dari apa yang didapat menurut perhitungan manual yang dilakukan oleh Damais, sebagai berikut:

Dalam prasasti hanya tertinggal penanggalan yang dapat dibaca yaitu 856 (Po….) …….. ra wukir. Yang oleh Damais dibaca 856 Posya ………………… wara Wukir.

Bulan Posya th 856 saka (934 M), tanggal 1 suklapaksa yang ekuivalen dengan tanggal 9 Desember 934 M, dan berakhir tanggal 15 kresnapaksa 856 saka yang ekuivalen dengan tanggal 7 Januari 935 M. Dalam keterangannya pula Damais menentukan bahwa  wuku ‘Wukir’ (7 hari) pada bulan Posya tahun 856 saka atau 935 M, hanya memiliki 4 hari, yaitu:

  • WU U A (Wurukung Umanis Aditya) yang jatuh tanggal 4 Januari 935 (tanggal 12 krsnapaksa bulan Posya)
  • PA PA SO (Paniron Pahing Soma) yang jatuh tanggal 5 Januari 935 (tanggal 13 krsnapaksa bulan Posya)
  • WA PO ANG (Was Pon Anggara) yang jatuh tanggal 6 Januari 935 (tanggal 14 krsnapaksa bulan Posya)
  • MA WA BU (Mawulu Wagai Budha) yang jatuh tanggal 7 Januari 935 (tanggal 15 krsnapaksa bulan Posya)

Selebihnya, yaitu 3 hari sudah masuk dalam wuku berikutnya, yaitu wuku ‘Kurantil’.

  • TU KA WRE (Tunglai Kaliwuan Wrehaspati) yang jatuh tanggal 8 Januari 935 (tanggal 1 suklapaksa bulan Magha)
  • HA U SU (Haryang Umanis Sukra) yang jatuh tanggal 9 Januari 935 (tanggal 2 suklapaksa bulan Magha)
  • WU PA SA (Wurukung Pahing Sanaiscara) yang jatuh tanggal 10 Januari 935 (tanggal 3 suklapaksa bulan Magha)

dengan demikian penetapan prasasti Kanuruhan oleh Damais disebut antara tanggal 4 s.d 7 Januari 935 M, atau antara hari Minggu s.d Rabu wuku Wukir.

b. Penetapan Hari Jadi Desa Bunul

Dari data prasasti dapat ditemukan sebuah data penanggalan walaupun tidak lengkap, yaitu tahun 856 saka bulan Posya wuku Wukir. Damais dalam daftar penanggalan prasasti-prasasti kuna di Indonesia, menetapkan bahwa wuku Wukir bulan Posya tahun 856 saka diketahui memilikii 4 hari dan pasaran, yaitu dimulai pada tanggal: 12 krsnapaksa Posya 856 saka hari Wurukung Minggu Legi (4 Januari 935M); 13 krsnapaksa Posya 856 saka hari Paniruan Senin Pahing (5 Januari 935 M); 14 krsnapaksa Posya 856 saka hari Was Selasa Pon (6 Januari 935 M); dan 15 krsnapaksa Posya 856 saka hari Mawulu Rabu Wage (7 Januari 935 M) (Damais, 1955). Dengan demikian tanggal penetapan diresmikannya prasasti secara yuridis formal adalah tanggal-tanggal tersebut.

Dalam perkembangannya, ilmu arkeologi memiliki sebuah ilmu bantu, yaitu Astronomi. Menurut perhitungan atas dasar ‘astroarkeologi’ yang dilakukan oleh  Trigangga dari Museum Nasional Jakarta bahwa waktu diresmikannya prasasti Kanuruhan tersebut adalah sebagai berikut:

Bunul-05


MOON

Magnitude: -8.20
Diameter: 32.4 ‘
Illuminated fraction: 0.179
Phase: 230 °
Distance: 369209.9 km
Position angle: 14.1
Libration in latitude: -3.46
Libration in longitude: -8.08
Sun inclination: 1.54
Ephemeris: plan404

Date: 935-01-04 12h00m00s
Coordinates: Apparent 935.0 Topocentric
RA: 15h44m11.66s DE:-17°07’56.6″
Apparent RA: 15h44m11.70s DE:-17°07’56.7″
Mean of the date RA: 15h44m11.70s DE:-17°07’56.7″
Mean J2000 RA: 16h45m44.71s DE:-19°45’31.0″
Ecliptic L: +237°42’13” B:+02°41’54”
Galactic L: +359°46’43” B:+16°24’41”
Visibility for your observatory:
Malang 935-01-04 12h00m00s ( JMT )
Universal Time: 935-01-04T04:52:48 JD=2062569.70333
Local sidereal time:19h35m24s
Hour angle: 03h51m 12s
Azimuth:+254°42′ 44″
Altitude:+33°03′ 48″
Rise: 1h58m Azimuth+107°23′
Culmination: 8h09m +80°51′
Set: 14h21m Azimuth+252°37′

Dari hasil perhitungan Trigangga berdasarkan astroarkeologi, prasasti diresmikan pada hari WU U A (Wurukung Umanis Aditya) tanggal 12 krsnapaksa  tula Rasi tabeh 4  bulan Posya tahun 856 saka, atau pada hari Ahad Legi, 4 Januari 935 M jam 12.00 wib.

Diasumsikan bahwa prasasti Kanuruhan tersebut dikeluarkan/diresmikan pada tanggal 4 Januari 935 M pada pukul 12:00 (kebanyakan prasasti-prasasti memang dikeluarkan pada waktu terang antara pukul 6:00 pagi hingga 18:00 sore). Maka posisi Bulan pada saat prasasti dikeluarkan yaitu berada di rasi Libra / Tula (system 12 rasi), atau rasi Ophiuchus (system 13 rasi). Dalam prasasti-prasasti, unsur pertanggalan rasi merujuk ke posisi Bulan, bukan Matahari. Dengan demikian dapat ditetapkan bahwa secara lengkap penanggalan pada prasasti Kanuruhan tersebut adalah : Tahun 856 saka bulan Posya wuku Wukir hari pasaran Wu U A atau Wurukung Umanis Aditya tanggal 12 krsnapaksa perbintangan Tularasi tabeh 4 siang. Equivalent dengan tanggal 4 Januari 935 M hari Minggu Legi pukul 12.00. Saat itulah secara yuridis formal dimulainya nama desa Bulul. Dalam tata bahasa Jawa, konsonan ‘L‘ pada kata Bulul dalam pengucapan bertukar dengan konsonan ‘N’. Misal kata Melur menjadi Menur, Pulen menjadi Punel, Panawijen menjadi Palawijen, dan sebagainya. Demikianlah pada akhirnya kata Bulul diucapkan Bunul.


Kesimpulan

Dari hasil paparan di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) Kata Bulul berasal dari
nama seorang pemuda Jawa Kuna yang hidup pada kurun abad X M dan bertempat tinggal di sebuah desa ( diduga bernama wanua/desa Kajatan) wilayah kerakaian Kanuruhan (sekarang Kota Malang). 2) Pemuda tersebut memiliki kelebihan dari pemuda desa lainnya, yang mencolok adalah perhatian serta kepeduliannya terhadap lingkungan serta sikap patriotisnya yang tinggi. Oleh karena sifat-sifat itulah raja Sindok melalui Rakryan Kanuruhan Dyah Mungpang, memberikan anugerah kepadanya berupa tanah perdikan desa Kajatan, dengan ditandai peresmian pada prasasti batu yang berbentuk arca Ganesya.  3) Peresmian dilakukan pada hari Minggu, 4 Januari 935 M. yang secara formal sejak tanggal tersebut desa Kajatan berubah menjadi desa Bulul. Pengucapan yang sering bertukar konsonan, akhirnya diucapkan sebagai desa Bunul hingga sekarang.


Saran

  1. Situs telaga itu sekarang tidak berbekas, karena di atasnya sudah didirikan bangunan gereja Kristen. Setidaknya untuk mengingat kejadian masa lampau. Ada baiknya apabila di area gereja tersebut dipasang papan keterangan yang dibuat oleh Disbudpar Kota Malang bahwa di tempat itu terdapat situs telaga tinggalan abad X M. Dengan papan keterangan tersebut masyarakat akan mengetahui asal-usul sejarah desanya.
  2. Pihak pemerintah kelurahan atau Disbudpar Kota Malang membuat brosur semacam liflet yang disebarkan ke semua lapisan masyarakat, efektifnya kepada lembaga sekolah yang ada di lingkungan Kelurahan Bunulrejo. Dengan liflet tersebut melalui lembaga sekolah, jajaran guru dan siswa akan mengetahui dan memahami terhadap makna dan arti pentingnya Sejarah Lokal. Karena sementara ini guru dan siswa hanya berkubang pada kitaran Sejarah Nasional saja.


Daftar Pustaka:

Boechari, M. dan Wibowo, A.S. 1985/1986.  Prasasti Koleksi Museum Nasional, volume 1. Jakarta: Proyek Pengembangan Museum Nasional.

Brandes, J.L.A. 1913. Oud-Javaansche Oorkonde, nagelaten transcripties van wijlen  Dr. J.L.A. Brandes, uitgegeven door N.J. Krom. VBG, LX. Batavia : Albrecht&Co’s – Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Damais, Louis Charles. 1955. Bulletin de L’ecole Francaise. D’extreme Orient. Saigon: Ecole Francaise D’extreme Orient.

Trigangga, 2011. Hasil Konfirmasi Penanggalan Prasasti Kanuruhan Berdasar Astroarkeologi.

Mardiwarsito, L. 1986. Kamus Jawa kuna-Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.

Nastiti, Titi Surti, dkk. 1982. Tiga Prasasti dari Masa Balitung. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala Departemen P dan K.

Nastiti, Titi Surti. 2007. Prasasti Sobhamrta. Jakarta: Puslitbang Arkenas. DepBudPar.

Notosusanto, Nugroho. 1976. Masalah Penulisan Sejarah Kontemporer: Suatu Pengalaman. Jakarta: Yayasan Idayu.

Poerwadarminta, WJS. tanpa tahun. Katrangan Tegesing Temboeng-Temboeng. Groningen-Batavia: JB. Wolters.

Sedyawati, Edi. 1994. Pengarcaan Gańeśa Masa Kadiri dan Siŋhasāri. Sebuah Tinjuan Sejarah Kesenian. Jakarta: LIPI-RUL.

Soedjono, Soesabdo Marmo. 1981. Pemerintahan Desa (UU No.5 tahun 1979). Jakarta: Bina Aksara.

Stutteirheim, W.F. 1940. Koning Teguh op Een Oorkonde. Tijdschrift voor Indische Taal-Land-en Volkenkunde. Uitgegeven door het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. LXXX:345-366. Batavia: Albrecht&Co.

Sumadio, Bambang, 1984. Jaman Kuna. Dalam Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto, ed. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Sumadio, Bambang et al., ed. 2009. Zaman Kuna (edisi pemutakhiran). Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto, ed. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka

Suwardono dan Rusmiayah. 1996. Monografi Sejarah Kota Malang. Malang: Sigma Media.

Zoetmulder, P. J. dan Robson, BD. 2004. Kamus Jawa kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia.


Daftar Informan

Bunul-06

PenulisSuwardono, Guru Sejarah SMA Negeri 7,
Jl. Cengger Ayam I No.14 Malang, Purbakalawan Jawa Timur bidang klasik (masa Hindu-Buddha) spesialisasi epigrafi.

Sumber :

Sejarah Desa Bunulrejo Kota Malang Berdasarkan Tinjauan Prasasti Kanuruhan